
Garut, 22 April 2026 — Dalam rangka memperingati Harlah ke-76 Fatayat NU, Pimpinan Cabang (PC) Fatayat Nahdlatul Ulama Kabupaten Garut menyelenggarakan kegiatan Sapa Sahabat PAC sebagai bagian dari upaya penguatan kapasitas kader di tingkat kecamatan. Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu, 22 April 2026, bertempat di Yayasan As-Sa’adah Limbangan, mulai pukul 08.00 hingga 13.00 WIB.
Kegiatan ini dihadiri oleh sekitar 30 peserta berasal dari jajaran pengurus PC Fatayat NU Kabupaten Garut serta pengurus Pimpinan Anak Cabang (PAC) dari beberapa kecamatan, di antaranya Limbangan, Selaawi, Leuwigoong, Cibiuk, Cibatu, Kersamanah, dan Malangbong. Kehadiran lintas PAC ini menunjukkan komitmen kolektif dalam memperkuat konsolidasi organisasi di tingkat akar rumput.
Mengusung semangat “Sapa Sahabat” sebagai ruang dialog partisipatif, kegiatan ini dirancang tidak hanya sebagai forum penyampaian materi, tetapi juga sebagai ruang aspirasi dua arah antara pengurus cabang dan pengurus PAC. Agenda kegiatan meliputi bincang hangat pengurus, diskusi interaktif, serta ramah tamah.
Dalam sesi materi, Dr. Hendarsitas Amartiwi selaku Ketua I PC Fatayat NU Garut menegaskan kembali pentingnya pemahaman ideologis terhadap Nahdlatul Ulama, khususnya prinsip tawasutt (moderat), tawazun (seimbang), i’tidal (adil), dan tasamuh (toleran) sebagai landasan gerak organisasi. Selain itu, peserta juga mendapatkan penguatan terkait ke-Fatayatan, termasuk struktur organisasi dan jenjang kaderisasi yang menjadi fondasi regenerasi kepemimpinan perempuan. Menurutnya, Isu kepemimpinan perempuan menjadi salah satu fokus utama dalam kegiatan “sapa sahabat” ini. Perempuan memiliki potensi strategis sebagai pemimpin, dengan keunggulan pada aspek empati, komunikasi, dan kemampuan membangun relasi sosial. Namun demikian, tantangan struktural dan kultural masih menjadi hambatan yang perlu diatasi melalui penguatan kapasitas dan solidaritas kader.

Sesi diskusi berlangsung dinamis dengan berbagai persoalan riil yang dihadapi PAC di lapangan, seperti hambatan komunikasi dengan ketua, dinamika sektoral antara Fatayat dan Muslimat, stagnasi kader, hingga tantangan membangun soliditas sumber daya manusia. Pertanyaan-pertanyaan ini mencerminkan kompleksitas pengelolaan organisasi di tingkat basis yang membutuhkan pendekatan strategis dan kontekstual.
Menanggapi hal tersebut, forum merumuskan sejumlah solusi dan kesepakatan. Di antaranya adalah pentingnya komunikasi persuasif dan kolektif-kolegial dalam pengambilan keputusan, penguatan kolaborasi lintas badan otonom untuk menghindari sektoralisme, serta distribusi peran yang adil guna mengatasi stagnasi kader. Selain itu, pengurus juga didorong untuk aktif melakukan publikasi kegiatan sebagai bagian dari strategi membangun kepercayaan publik.
Sebagai tindak lanjut, PC Fatayat NU Garut merumuskan beberapa langkah strategis, antara lain melakukan pemetaan ulang potensi sumber daya manusia di tingkat ranting, menyelenggarakan kegiatan Sapa Sahabat secara rutin sebagai forum aspirasi, menjadwalkan Latihan Kader Dasar (LKD) untuk penyamaan visi kader, serta mendorong digitalisasi organisasi melalui optimalisasi media sosial.
Kegiatan ini menjadi refleksi bahwa penguatan organisasi tidak hanya bergantung pada struktur formal, tetapi juga pada kualitas komunikasi internal, distribusi kepemimpinan, serta kemampuan organisasi dalam merespons dinamika sosial secara adaptif.