Menapak Jejak Wali, Merawat Tradisi: Ziarah Wali Garut dalam Spirit Harlah Fatayat NU ke-76

chotijah

No Comments

Garut, 24 April 2026 – Ziarah bukan sekadar perjalanan fisik menuju makam para pendahulu, melainkan perjalanan batin untuk menapak jejak sejarah, merawat ingatan kolektif, dan meneguhkan nilai-nilai keislaman yang hidup dalam tradisi Ahlussunnah wal Jamaah. Semangat inilah yang dihidupkan oleh Pimpinan Cabang (PC) Fatayat NU Kabupaten Garut melalui kegiatan Ziarah Wali Garut ke Sunan Rumenggong, Mbah Ketib, dan Sunan Haruman yang lebih dikenal sebagai Syekh Ja’far Shidiq, pada Jumat, 24 April 2026, sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Lahir (Harlah) Fatayat NU ke-76.

Kegiatan yang diikuti oleh pengurus PC Fatayat NU Garut serta perwakilan Pimpinan Anak Cabang (PAC), khususnya PAC Limbangan dan PAC Cibiuk sebagai tuan rumah, menjadi ruang pertemuan antara sejarah, spiritualitas, dan gerakan perempuan. Sejak pagi hari, para peserta memulai perjalanan dari Limbangan, sebuah wilayah yang dalam sejarah dikenal sebagai salah satu pusat penting perkembangan Islam di Priangan.

Ziarah ini menyusuri jejak tiga tokoh besar yang memiliki peran penting dalam sejarah Islam di Garut, yakni Sunan Rumenggong, Mbah Ketib, dan Syekh Ja’far Shiddiq. Sunan Rumenggong, yang dikenal sebagai Prabu Wijayakusumah I, merupakan tokoh awal yang meletakkan fondasi peradaban Islam di wilayah Limbangan melalui Kerajaan Kerta Rahayu pada abad ke-15. Ia tidak hanya dikenal sebagai pemimpin politik, tetapi juga sebagai figur yang menanamkan nilai-nilai kehidupan Islami melalui prinsip silih asah, silih asih, dan silih asuh—sebuah filosofi yang hingga kini tetap relevan dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis.

Jejak tersebut kemudian dilanjutkan ke makam RD.wiranegara alias eyang RD. Mustamil alias dalem astana balong. Beliau adalah putra dari syaikh RD abdul Qohhar atau yang lebih dikenal dengan sebutan mbah khotib/ mbah ketib limbangan. Eyang RD mustamil adalah paman sekaligus mertua dari eyang wali Ja’far shiddiq gunung haruman cibiuk garut. Beliau merupakan Ulama ahli tafsir dan Fikih di limbangan garut pada masanya.

Sementara itu, Syekh Ja’far Shiddiq—yang juga dikenal sebagai Sunan Haruman—menjadi representasi kuat kesinambungan tradisi keilmuan dan dakwah Islam di Garut. Melalui jaringan murid dan pesantren yang dibangunnya, ia berkontribusi besar dalam menguatkan identitas keislaman masyarakat Priangan, hingga wilayah ini dikenal sebagai “negeri 1000 wali”.

Dalam perspektif Ahlussunnah wal Jamaah, ziarah kubur merupakan amaliyah yang tidak hanya berfungsi sebagai bentuk penghormatan kepada para ulama dan wali, tetapi juga sebagai sarana refleksi spiritual. Tradisi ini mengandung nilai tadzakkur al-maut (mengingat kematian), tabarruk (mengambil keberkahan), serta ittiba’ (meneladani) perjuangan para pendahulu dalam menyebarkan Islam dengan cara yang damai, santun, dan penuh kasih.

Ketua PC Fatayat NU Garut, Dr. Ernawati Siti Saja’ah, M.Pd.I,  dalam pernyataannya menegaskan bahwa kegiatan ziarah ini memiliki makna strategis, tidak hanya dalam konteks spiritual, tetapi juga dalam penguatan gerakan perempuan berbasis nilai.

“Ziarah ini bukan sekadar tradisi, tetapi proses belajar sejarah dan meneladani perjuangan para wali. Dari mereka kita belajar bahwa dakwah dilakukan dengan kelembutan, kedekatan dengan masyarakat, dan nilai kasih sayang. Ini menjadi inspirasi bagi kader Fatayat NU untuk terus bergerak, menghadirkan kebermanfaatan, serta memperkuat peran perempuan dalam membangun masyarakat yang berkeadaban,” ungkapnya.

Ia menekankan bahwa rangkaian Harlah Fatayat NU ke-76 tidak hanya berorientasi pada kegiatan seremonial, tetapi juga pada upaya menghadirkan dampak nyata melalui berbagai program pemberdayaan perempuan. Dalam konteks ini, ziarah menjadi fondasi nilai—sebuah proses internalisasi yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan gerakan Fatayat NU.

Melalui kegiatan ini, Fatayat NU Garut tidak hanya merawat tradisi, tetapi juga menghidupkan kembali makna ziarah sebagai praktik keagamaan yang sarat nilai edukatif, historis, dan transformatif. Dari makam para wali, para kader belajar bahwa perubahan besar selalu berakar dari ketulusan, keteladanan, dan keberanian untuk terus berbuat kebaikan. Ziarah pun menjadi lebih dari sekadar perjalanan—ia adalah ikhtiar merawat ingatan, meneguhkan identitas, dan melanjutkan perjuangan.

KONTAK MEDIA

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:

Chotijah Fanaqi
Jabatan Ketua Bidang II Fatayat NU Garut
Nomor HP / WhatsApp: 081222828189
Email Resmi: chotijahfanaqi@gmail.com

Kabar Menarik Lainnya

Stigma perempuan sumber fitnah

Peran Perempuan dalam Melawan Stigma “Perempuan sebagai Sumber Fitnah”

Leave a Comment

Dompet sosial

Dompet Sosial Fatayat NU
Jawa barat

Mari berdonasi untuk masyarakat Jawa Barat yang membutuhkan.

No. Rek: 1386160081

Bank: BNI

A.n: PW Fatayat NU Jawa Barat